Monday, 20 February 2017

TERM OF REFERENCE (TOR) ADC 2017

Yayasan Aceh Dokumenter

(ACEH DOCUMENTARY)

Present

ACEH DOCUMENTARY COMPETITION (ADC) 2017

Tema:

“KEUMANG”

 

Berbicara tentang Aceh baik itu sebagai bagian salah satu suku bangsa Indonesia, maupun sebagai bagian dari geografis Negara Indonesia. Aceh memang unik sekaligus menyimpan sejumlah cerita panjang yang tak habis – habisnya, bukan saja karena Aceh merupakan satu dari hanya dua daerah istimewa di Indonesia dan satu dari hanya dua provinsi yang memiliki otonomi khusus, namun satu-satunya daerah yang menerapkan syariat islam serta mempunyai partai lokal.

Cerita konflik dan tsunami kini merupakan sesuatu hal yang klise untuk dibahas lagi di Aceh. Karena Aceh sudah berjalan sama derajatnya dengan daerah lainnya di Indonesia. Aceh sudah memiliki undang-undang khusus sebagai aturan untuk membangun manusianya yang lebih bermartabat dan berperadaban.

Tapi untuk melihat apa yang sudah terjadi hari ini perlu kiranya kita melihat Aceh sejak perdamaian dan pasca Tsunami yang sudah berusia lebih dari satu dekade.

Ketika membaca Aceh dari sudut pandang politik, maka ia sudah mulai membangun citra yang baik dari periode-periode sebelumnya. Dari sisi anggaran, Aceh berada di posisi kedua terbesar di Indonesia setelah Papua. Walaupun demikian tidak dapat kita pungkiri Aceh termasuk daerah termiskin kedua se-Sumatara.

Melihat kondisi Aceh hari ini sudah sepatutnya kita merespon segala bentuk perubahan yang terus terjadi. Karena bagaimana pun bentuk perubahan yang terjadi, apakah Aceh menjadi lebih baik ataupun sebaliknya? sangat tergantung dengan apa yang kita lakukan untuk Aceh hari ini.

Bicara perubahan maka kata “kita”, sudah sepatutnya dibebankan kepada pemuda. Karena pemuda sebagai Agen of Change  merupakan ujung tombak yang menentukan arah perubahan sebuah daerah, khususnya pemuda-pemudi kita yang akan menjadi generasi penerus di Aceh.

Sebutan Tanoh Aulia dan Serambi Mekkah rasanya sangat  kontras bila dibandingkan dengan kondisi Aceh hari ini. Banyak anak muda Aceh hari ini yang masih terjebak dalam lingkaran dunia narkoba, serta tingginya angka kelahiran anak diluar pernikahan yang sah. Hal tersebut masih menjadi cambuk keras bagi kita untuk terpacu melakukan kegiatan-kegiatan positif di tanah kelahiran kita. Tentu kita akan bertanya kenapa bisa begini?

Hal ini menjadi tantangan yang bisa digambarkan dalam pertanyaan, “ Kontribusi positif apa yang sudah kita lakukan untuk Aceh? dan Apakah generasi Aceh hari esok akan menjadi generasi emas yang lebih berkilau atau akan menjadi generasi loyang/ besi yang berkarat?”.

Jawabannya tidak hanya bergantung pada pemerintah, pihak terkait ataupun tokoh – tokoh Aceh hari ini, yang telah mendapatkan manfaat dari sumber daya bumi Aceh, yang sengaja Allah SWT letakan di ujung Sumatera, di depan Selat Malaka yang menjadi pintu masuk dan keluar ke dunia global.

Tentu untuk menilai itu tidak lepas dari pengaruh sosial, politik, ekonomi, hokum, pendidikan dan budaya yang akhirnya melahirkan sebuah gaya atau karakter baru yang mungkin berbeda dengan ide dan gagasan tentang Aceh dahulu yang selalu diagung-agungkan.

 

KEUMANG

Aceh saat ini sedang dalam proses bertumbuh. Aceh akan terus berjalan sembari memupuk diri agar mampu untuk terus berkembang. Kini aceh berada di tangan para pemuda, akankah Aceh yang sedang tumbuh akan layu ataukah akan terus berkembang.

Bagaikan sebatang mawar yang sedang tumbuh dalam keadaan masih kuncup, akankah mawar ini mampu mekar atau malah akan layu?. Tergantung kepada si pemilik, maukah ia memupuknya setiap hari atau tidak. Jika mawar layu maka tamatlah sudah cerita si mawar. Akan tetapi berbeda saat si mawar bisa bermekaran dengan sempurna, ia akan mempercantik halaman, menarik daya pikat, dan berguna bagi para kumbang disekelilingnya.

Pemaparan di atas merupakan analogi singkat terkait tema “Keumang” yang di angkat ADC tahun 2017. Mawar yang kuncup dan siap untuk bermekaran diumpamakan sebagai Aceh dan pemiliknya adalah kita seluruh masyarakat Aceh, terutama pemudanya.

Pemuda menjadi fokus utama dari maksud tema ADC tahun ini. Sebagai pemegang tongkat penerus kepemimpinan dan pelaku perubahan, diharapkan akan lahir film-film dokumenter yang mampu mengangkat cerita-cerita dari pemuda yang hari ini terus berkreasi dan menginspirasi. Tidak hanya itu dengan media film dokumenter, juga diharapkan mampu menjadi alat bagi pemuda-pemudi Aceh untuk menyuarakan keresahan atas ketidak sesuaian dan permasalahan yang masih terus terjadi di lingkungan sekitarnya. Baik itu yang terjadi di bidang  pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Maka dari itu, Aceh Documentary sebagai lembaga edukasi film dokumenter pertama di Aceh, yang dimulai sejak tahun 2013 dan bernaung di bawah Yayasan Aceh Dokumenter. Alhamdulillah masih tetap terus berkomitmen untuk mengadakan program Aceh Documentary Competition (ADC) yang kali ini memasuki tahun ke-5. Sebagai sebuah program edukasi dan kompetisi film dokumenter untuk kalangan muda-mudi Aceh. ADC tahun ini akan mengusung tema tertentu, seperti tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi tetap menentukan batasan-batasan ruang dengan menitik beratkan pada kekuatan sebuah ide yang mengandung fakta juga memuat subjektivitas si pembuatnya. Artinya apapun cerita dan realita yang berhasil direkam memang berdasarkan fakta yang ada, dan dalam  penyajiannya terdapat pemikiran, ide dan sudut pandang pemikiran si pembuat film.

Film sebagai karya seni, merupakan hasil dari proses kreatif berbagai unsur diantaranya seni musik, seni rupa, seni suara, teater serta teknologi dengan kekuatan gambar sebagai bentuk visualisasinya. Perkembangan film bukan hanya sebatas ruang pengaplikasian bakat dan kreativitas, tetapi film juga mampu menceritakan kisah-kisah yang lebih kompleks tentang kondisi psikologis manusia. Dokumenter sebagai salah satu jenis film, memberikan sudut pandang tersendiri yang unik terhadap sebuah fakta peristiwa atas sebuah realita (fakta) dan disampaikan dengan cara kreatif. Bahkan film dokumenter yang baik harus mampu meyakinkan penontonnya agar setuju atau setidaknya berpikir terhadap sebuah fakta yang ditampilkan.

Maka untuk mendapatkan ide film dokumenter sangat dibutuhkan kepekaan terhadap lingkungannya, disertai rasa ingin tahu yang besar dengan membaca dan  berkomunikasi antar manusia dalam pergaulan yang merupakan sumber inspirasi yang tak akan habis. Ide cerita untuk film dokumenter di dapat dari apa yang  dilihat dan didengar, bukan berdasarkan suatu hayalan yang sifatnya imajinatif. Karena itu kepekaan si pembuat film dokumenter untuk merespon keresahan dari sebuah realita baik itu fenomena atau peristiwa di sekitarnya, akan menentukan nilai  dari sebuah karya filmnya.

Melalui ADC tahun ini yang mengangkat tema “Keumang”, Aceh Documentary kembali mengajak semua anak muda-mudi Aceh untuk terus merespon dari semua realitas fenomena di Aceh hari ini lewat medium film dokumenter. Harapannya film-film yang lahir dari sineas aceh tahun ini, tidak hanya kemudian menjadi karya yang cukup diapresiasi oleh masyarakat Aceh, akan tetapi juga bisa terus mengipsirasi, menggugah emosi serta mengubah perspektif.

Poster ADC 2017

Dokumen/Download:

FORM FORMULIR PESERTA ACEH DOCUMENTARY COMPETITION (ADC) 2017

TERM OF REFERENCE (TOR) ACEH DOCUMENTARY COMPETITION (ADC) 2017

PERSYARATAN PESERTA ACEH DOCUMENTARY COMPETITION (ADC) 2017

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi :

Manager program /Munzir  : 082360012657

Nasrudin  : 082361953606

Office: Jalan Teuku Umar No.266A, Lantai II, Setui, Banda Aceh

E-mail:  adoc.comp@gmail.com

Atau klik : munzirtkj@gmail.com

Facebook : acehdocumentary | Twitter : acehdoc