Aceh Documentary Logo
Menggugat Cara Kita Menikmati Film Dokumenter
Tulisan • Article

Menggugat Cara Kita Menikmati Film Dokumenter

February 4, 2026 Aceh Documentary

Review atas Buku The Documentary Audit: Listening and the Limits of Accountability 

Oleh: Akbar Rafsanjani

Sebagai pembuat film dokumenter, saya tumbuh dengan keyakinan bahwa dokumenter adalah sebuah mesin empati. Kita diajarkan bahwa fungsi mulia dari genre ini adalah memberikan suara kepada mereka yang tak bersuara (giving voice to the voiceless). Ada subjek yang terpinggirkan, dan pembuat film datang sebagai penyelamat yang menyodorkan mikrofon, memungkinkan dunia mendengar kebenaran mereka. Namun, buku terbaru Pooja Rangan, The Documentary Audit: Listening and the Limits of Accountability (Columbia University Press, 2025), hadir untuk meruntuhkan kenyamanan moral tersebut.

Membaca Rangan rasanya seperti seseorang tiba-tiba menyalakan lampu terang di ruang bioskop yang gelap. Mendadak kita sadar bahwa cara kita menonton dan terutama cara kita mendengarkan tidaklah sepolos yang kita kira.

Dalam buku ini, Rangan mengajukan premis yang provokatif. Masalah dalam dokumenter hari ini bukanlah pada siapa yang berbicara, melainkan bagaimana kita dilatih untuk mendengarkan. Ia menyebut mekanisme ini sebagai The Documentary Audit.

Istilah audit di sini sangat tepat. Seperti seorang auditor pajak yang memeriksa pembukuan untuk mencari kesalahan atau kepatuhan, penonton dokumenter sering kali diposisikan bukan sebagai pendengar yang setara, melainkan sebagai pengawas. Kita mendengarkan untuk memverifikasi. Kita mendengarkan untuk menilai apakah subjek ini “layak” ditolong, apakah ceritanya “masuk akal”, atau apakah penderitaan mereka cukup “otentik”. Rangan mengajak kita menelusuri tiga mode pendengaran yang dominan dalam budaya kita; netral, ableist (diskriminatif terhadap disabilitas), dan yuridis. Serta menawarkan jalan keluar yang radikal.

Perjalanan naratif buku ini dimulai dengan sejarah yang mengejutkan tentang “suara Tuhan” (Voice of God) yang sering kita dengar dalam dokumenter klasik. Kita tahu suara itu. Narator pria, berwibawa, dengan artikulasi sempurna yang seolah-olah tidak berasal dari mana pun, suara yang terdengar “objektif”.

Rangan melacak asal-usul suara ini kembali ke film-film propaganda Inggris tahun 1930-an produksi General Post Office (GPO) Film Unit. Di sinilah standar Received Pronunciation (RP) atau aksen BBC dibentuk. Rangan menunjukkan bagaimana film-film ini melatih telinga penonton untuk menganggap aksen kelas atas Inggris sebagai netral dan berwibawa, sementara aksen pekerja tambang atau penduduk koloni dianggap sebagai suara bising yang perlu diterjemahkan atau dijelaskan.

Bagian yang paling mengguncang dari bab ini adalah ketika Rangan menarik garis lurus dari film tahun 1930-an ke industri call center modern di India. Ia menganalisis film Nalini by Day, Nancy by Night karya Sonali Gulati, yang menyoroti bagaimana pekerja call center dipaksa melakukan neutralization aksen agar terdengar seperti orang Amerika atau Inggris tanpa tempat.

Rangan menantang kita, Mengapa kita menganggap aksen tertentu berat dan yang lain netral? Ia menawarkan konsep tandingan, Listening with an Accent. Ini bukan berarti meniru aksen orang lain, melainkan menyadari bahwa telinga kita sendiri memiliki “aksen”. Bahwa cara kita mendengar dibentuk oleh bias kelas, ras, dan lokasi kita sendiri. Tidak ada pendengaran yang netral, yang ada hanyalah pendengaran yang menyadari posisinya atau yang pura-pura tidak tahu.

Jika bab pertama membongkar telinga kolonial kita, bab kedua, Listening in Crip Time, menghantam asumsi kita tentang tubuh dan waktu. Di sini, Rangan mengkritik konsep “akses” dalam dokumenter yang sering kali bersifat transaksional dan ekstraktif. Seringkali, dokumenter tentang disabilitas dibuat untuk memuaskan rasa ingin tahu penonton non-disabilitas, menjadikan tubuh difabel sebagai objek inspirasi atau kasihan.

Rangan memperkenalkan kita pada karya radikal dari Jepang, Goodbye CP (1972) oleh Hara Kazuo. Film ini menolak memberikan kenyamanan pada penonton. Subjek filmnya, aktivis cerebral palsy dari kelompok “Green Grasses”, menolak dibantu atau diterjemahkan. Ada adegan di mana seorang subjek merangkak naik ke bus tanpa bantuan, memaksa penonton untuk merasakan ketidaknyamanan, durasi yang lambat, dan gesekan fisik yang nyata.

Ini adalah apa yang Rangan sebut sebagai Crip Listening. Alih-alih menuntut akses instan dan pemahaman yang mudah (seperti subtitle yang merapikan bicara yang gagap), kita dipaksa untuk melambat, menunggu, dan berada dalam ketidakpastian.

Rangan juga membahas karya kontemporer Shared Resources oleh Jordan Lord, yang menggunakan open captions dan deskripsi audio bukan sebagai fitur tambahan, tapi sebagai estetika utama film. Ini mengubah “akses” dari sekadar pintu masuk menjadi sebuah bentuk solidaritas. Bagi saya, bab ini mengubah cara pandang terhadap captioning di film, bukan sebagai alat bantu bagi yang kurang, tapi sebagai pengakuan bahwa semua komunikasi itu rapuh dan butuh jembatan.

Bab terakhir, Listening Like an Abolitionist, mungkin adalah yang paling relevan dengan iklim politik kita saat ini. Rangan menyoroti tren dokumenter investigatif dan forensik, seperti karya-karya Forensic Architecture.

Sejak Pengadilan Nuremberg, kita dilatih untuk mendengarkan kesaksian korban sebagai bukti dalam sebuah pengadilan imajiner. Kita menonton dokumenter pelanggaran HAM dengan mentalitas juri.”Apakah ini benar terjadi? Mana buktinya?” Rangan menyebut ini sebagai Juridical Listening (Pendengaran Yuridis) atau, lebih tajam lagi, Listening Like a Cop.

Masalahnya, menurut Rangan, ketika kita sibuk menjadi detektif yang memverifikasi kebenaran sebuah video kekerasan polisi atau kejahatan perang, kita sering kali terjebak dalam logika negara yang menghukum. Kita mencari “pelaku jahat” individu, alih-alih melihat sistem yang memproduksinya.

Sebagai antitesis, Rangan menganalisis film The Viewing Booth karya Ra’anan Alexandrowicz dan investigasi pembunuhan Harith Augustus oleh Forensic Architecture. Ia mengajukan konsep Abolitionist Listening, sebuah cara mendengarkan yang tidak bertujuan untuk menghukum atau memenjarakan, tetapi untuk membayangkan bentuk keadilan baru yang transformatif. Ini adalah pendengaran yang menolak menjadi perpanjangan tangan polisi. Pendengaran yang mencari Black evidence, bukti kehidupan dan resistensi yang sering diabaikan oleh lensa forensik yang dingin.

The Documentary Audit bukanlah buku yang mudah. Rangan tidak memberikan daftar “cara membuat film yang baik”. Sebaliknya, ia membongkar fondasi dari apa yang kita anggap sebagai “kebaikan” dalam film dokumenter.

Pesan utamanya jelas, akuntabilitas dalam dokumenter sering kali hanya menjadi sekadar audit birokratis. Sebuah checklist untuk memastikan kita merasa sudah menjadi orang baik karena telah menyaksikan penderitaan orang lain. Rangan mengajak kita untuk bergerak melampaui audit, menuju solidaritas.

Bagi saya, buku ini adalah peringatan penting. Setelah membacanya, saya tidak bisa lagi menonton dokumenter dengan cara yang sama. Saya tidak lagi bertanya, “apakah film ini memberikan suara pada mereka?” Sebaliknya, saya bertanya pada diri sendiri,”sebagai penonton, telinga macam apa yang saya bawa ke hadapan film ini? Apakah saya mendengarkan untuk mengaudit, atau saya mendengarkan untuk berubah?”

Judul Buku: The Documentary Audit: Listening and the Limits of Accountability
Penulis: Pooja Rangan
Penerbit: Columbia University Press
Tahun: 2025

Stay Updated

Subscribe to our newsletter to receive updates about our programs, events, and latest films.

Languages