Sunday, 30 August 2015

Sebuah Film yang direkam dengan tanpa rekayasa cerita adalah sebuah realita

Features

BA’DA AZAR hari ini, Kami berkesempatan menonton Primere lima Film Dokumenter karya Sineas muda Aceh, dalam tajuk “Bioskop Aceh Documentary 2015”. Semua finalis dalam event ini mencoba merekam Aceh, mengupas beragam cerita, menvisualkan bentuk nyata sebuah kehidupan pasti masyarakat kita.

Film film yang diputar di gedung Sultan II Selim yang disulap menjadi Bioskop ini, seakan mengajak kita untuk bersadar diri, bagaimana kerasnya kehidupan anak negeri. Ada banyak hal yang tak normal terjadi ditegah kehidupan Rakyat kita, begitu besar masih tangan-tangan ( Pemerintah dan kita Rakyat ) harus bekerja keras memperbaiki hal ini.

Kami mencoba merekam massage cerita yang disuguhkan anak muda Aceh tersebut, misal dalam Film ” Harga Untuk Relawan” dalam film ini, digambarkan bagaimana seorang remaja putri yang menjadi relawan sebuah sekolah PAUD di sebuah sudut gampong di Aceh Besar, harus dibantu teman-teman relawan lainnya secara “Meurepee” membayar biaya pendaftaran kuliahnya.

Begitu juga cerita Film “Siner Jaya” Pemegang estafet penyair To’et Asal Gayo, yang tergambar adalah, bagaimana keringnya nilai aspresiasi atau reward dari pemerintah kepada keluarga seniman besar ini, yang masih merawat budaya khas negeri Antara, mengganti bantal ( instrument yang digunakan untuk memainkan didong) saja mereka katanya kewalahan, apalagi menyeragamkan seragam untuk perform pemain didongnya,

Cerita cerita diatas kami yakini adalah sebuat realitas di negeri kita, disaat Anak anak muda yang menulis isi naskah film itu paham dan melihat ini adalah sebuah ketidaknormalan yang harus divisualkan, kenapa Pemerintah kita alpa menepatkan mata dan teliganya akan hal ini. ?
Semoga kerja Pemerintah kita, tidak menjadi bahan tertawaan anak muda.
Selamat menikmati akhir pekan.

 

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1484319185200657&set=a.1393082957657614.1073741828.100008677692370&type=1